<p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">DALUNG (24/07/2026)</span></span></span></b><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif"> – Kegiatan Pembuatan Ogoh-ogoh yang dilakukan oleh Yowana Citta Parahita Banjar Bhineka Nusa Kangin pada Jumat (20/2). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Yowana Citta Parahita I Ketut Andika Putra Laksana, beserta anggota. Tujuan dari diadakannya kegiatan ini adalah untuk menyambut Nyepi tahun caka 1948. Selain itu, melalui kegiatan ini juga bisa menjadi sarana untuk memperkuat rasa cinta terhadap warisan budaya Bali.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><i><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">“Ragun (atau Rarung) Sangsaya”</span></span></span></i></b><i> </i><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">dapat dimaknai sebagai simbol dari keraguan, kebimbangan, dan pikiran negatif dalam diri manusia yang divisualisasikan dalam bentuk sosok yang menakutkan. Pada pembuatan ogoh - ogoh menjelang Hari Raya Nyepi, wujud yang seram, menyeramkan, dan berlebihan itu bukan sekadar untuk menakut - nakuti, tetapi melambangkan sifat - sifat buruk seperti rasa takut, ragu, amarah, dan kekacauan batin (sangsaya) yang ada dalam diri manusia. Dengan diarak lalu dibakar, ogoh-ogoh tersebut menjadi simbol proses pembersihan diri (penyucian), yaitu membuang jauh keraguan dan energi negatif agar manusia dapat memasuki Nyepi dengan pikiran yang lebih jernih, tenang, dan seimbang.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Ketut Andika sebagai Ketua Yowana memaparkan di setiap tahunnya mereka selalu berupaya untuk memberikan tema serta filosofis ogoh – ogoh yang bisa sesuai dengan kondisi yang ada di bali sekarang, karena menurutnya, ogoh – ogoh itu bukan hanya karya dan inovasi yowana untuk membuat karya semata, tapi untuk mengekspresikannya dan mengingatkan kembali terkait dengan budaya yang harus kita jaga Bersama di Bali ini. <b><i>“Untuk itu kami persembahkan Rarung Sangsaya sebagai refleksi generasi muda terkait dengan bagaimana kondisi pulau Bali kit aini,a agae kedepannya kita bisa membuang sifat yang merugikan kita, dan bisa melangkah Bersama untuk lebih baik lagi kedepannya,”</i></b> ungkapnya. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:106%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">(KIMDLG-009).</span></span></span></b></span></span></span></p>
Rarung Sangsaya: Lomba Ogoh-ogoh Paiketan Yowana Dalung Permai
24 Jul 2026